Pengaruh Nabi Muhammad


Kekuatiran-kekuatiran Quraisy: Persaingan
Kalaupun Abu Sufyan dan kawan-kawannya masih bertahan dengan kepercayaan leluhur mereka, bukanlah hal itu karena dilandasi oleh iman atau kebenaran yang ada, tapi karena mereka sudah terlalu mencintai pada cara lama yang mereka adakan itu. Kemudian nasib membantu mereka pula. Mereka bertahan hanya karena kedudukan dan harta yang sudah berlimpah-limpah, dan untuk itu pula mereka bertempur mati-matian. 

Di samping kecenderungan ini juga karena rasa dengki dan persaingan yang keras membuat Quraisy tidak mau menjadi pengikut Nabi. Sebelum kedatangan Muhammad, Umayya b. Abi'sh-Shalt memang termasuk salah seorang yang pernah bicara tentang seorang nabi yang akan tampil di tengah-tengah masyarakat Arab itu, dan dia sendiri berhasrat sekali ingin jadi nabi. Perasaan dengki itu rasa membakar jantungnya tatkala ternyata kemudian wahyu tidak datang kepadanya. Jadi dia tidak mau menjadi pengikut orang yang dianggapnya saingannya. Apalagi, karena (sebagai penyair) sajak-sajaknya penuh berisi pikiran, sehingga pernah suatu hari Nabi a.s. menyatakan ketika sajaknya dibacakan di hadapannya: "Umayya, sajaknya sudah beriman, tapi hatinya ingkar." 

Atau seperti kata al-Walid bin'l-Mughira: "Wahyu didatangkan kepada Muhammad, bukan kepadaku, padahal aku kepala dan pemimpin Quraisy. Juga tidak kepada Abu Mas'ud 'Amr b. 'Umair ath-Thaqafi sebagai pemimpin Thaqif. Kami adalah pembesar-pembesar dua kota." 

Untuk itulah firman Tuhan memberi isyarat: 
"Dan mereka berkata: 'Kenapa Qur'an ini tidak diturunkan kepada orang besar dari dua kota itu?' Adakah mereka membagi-bagikan kurnia Tuhanmu? Kamilah yang membagikan penghidupan mereka itu, dalam hidup dunia ini." (Qur'an 43: 13-32) 


Setelah Abu Sufyan, Abu Jahl dan Akhnas selama tiga malam berturut-turut mendengarkan pembacaan Qur'an, seperti dalam cerita di atas, Akhnas lalu pergi menemui Abu Jahl di rumahnya. "Abu'l-Hakam2, bagaimana pendapatmu tentang yang kita dengar dari Muhammad?" tanyanya kepada Abu Jahl. 

"Apa yang kaudengar?" kata Abu Jahl. "Kami sudah saling memperebutkan kehormatan itu dengan Keluarga 'Abd Manaf. Mereka memberi makan, kamipun memberi makan, mereka menanggung kamipun begitu, mereka memberi kami juga memberi sehingga kami dapat sejajar dan sama tangkas dalam perlumbaan itu. Tiba-tiba kata mereka: "Di kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit." Kapan kita akan menjumpai yang semacam itu? Tidak! Kami sama sekali tidak akan percaya dan tidak akan membenarkannya." 

Kehilangan Kedudukan di Mekah
Jadi yang dalam sekali berpengaruh dalam jiwa orang-orang badui itu ialah rasa dengki, saling bersaing dan saling bertentangan. Dalam hal ini salah sekali bila orang mencoba mau menutup mata atau tidak menilainya sebagaimana mestinya. Cukup kalau kita sebutkan saja adanya kekuasaan nafsu yang begitu besar dalam jiwa tiap orang. Untuk dapat mengatasi pengaruh ini memang diperlukan suatu latihan yang cukup panjang, latihan jiwa dengan mengutamakan hukum akal di atas dorongan nafsu, jiwa dan pikiran kita harus cukup tinggi sehingga dapat ia melihat bahwa kebenaran yang datang dari lawan bahkan dari musuh itu, itu jugalah kebenaran yang datang dari kawan karibnya. Ia harus yakin, bahwa dengan kebenaran yang dimilikinya itu kekayaannya sudah lebih besar dari harta karun, dari kebesaran Iskandar (Agung) dan dari kerajaan seorang kaisar. Tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkat ini kalau tidak karena Tuhan sudah membukakan hatinya untuk kebenaran itu. 

Di luar itu, untuk mencapai tingkat pengertian yang lebih tinggi, orang sudah dibutakan oleh harta benda duniawi, oleh kenikmatan hidup sejenak yang dirasakannya. Untuk kepentingan duniawi itu, untuk memburu saat sejenak itu, mereka berperang dan bertempur. Tak ada sesuatu yang akan dapat menghambat mereka menancapkan kuku dan gigi mereka ke batang leher kebenaran, kebaikan dan pengertian moral yang tinggi itu. Lalu, kesempurnaan yang paling suci artinya itu oleh mereka akan diinjak-injak di bawah telapak kaki yang sudah kotor. 

Bagaimana pendapat kita tentang orang-orang Arab Quraisy itu yang melihat Muhammad makin sehari makin banyak pengikutnya? Mereka kuatir, kebenaran yang sudah diproklamirkan itu suatu ketika akan menguasai mereka, akan menguasai orang-orang yang sudah setia kepada mereka, yang lalu akan menjalar sampai kepada orang-orang Arab di seluruh jazirah. Sebelum melakukan itu mereka harus memotong leher orang itu dulu jika dapat mereka lakukan. Lebih dulu mereka harus melakukan propaganda, pemboikotan, blokade, penyiksaan dan kekerasan terhadap musuh-musuh besar mereka itu. 

Sebab ketiga keberatan mereka menjadi pengikut Muhammad ialah mereka takut sekali pada hari kebangkitan serta siksa neraka pada Hari Perhitungan kelak. Kita sudah melihat masyarakat yang begitu hanyut dalam hidup bersenang-senang dengan cara yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap perdagangan dan riba itu wajar. Bagi orang kaya di kalangan mereka itu tak ada sesuatu yang dipandang hina, yang harus dijauhi. Disamping itu, dengan membawakan sesajen segala kejahatan dan dosa mereka itu sudah dapat ditebus. Seseorang cukup mengadu nasibnya dengan qidh (anak panah) di depan Hubal, sebelum ia melakukan sesuatu tindakan. Tanda yang diberikan oleh anak panah, itulah perintah yang datang dari Hubal. Supaya kejahatan-kejahatan dan dosa-dosanya itu diampuni oleh berhala-berhala, cukup ia menyembelih binatang untuk berhala-berhala itu. Ia dapat dibenarkan melakukan pembunuhan, perampokan, melakukan kejahatan, ia tidak dilarang menjalankan pelacuran selama ia mampu memberi suap kepada dewa-dewa itu berupa kurban-kurban dan penyembelihan-penyembelihan. 

Komentar

Postingan Populer